Select Page

Tujuan awal dari cryptocurrency pertama, yaitu Bitcoin adalah anonimitas atau uang tunai yang tidak terlacak. Uang yang tidak dicetak oleh pemerintah, tetapi sebaliknya dibuat oleh kode binari yang diberdayakan oleh orang-orang di internet, dan anda bisa mempercayainya.

Saat ini siapa pun dapat membeli cryptocurrency. Hanya dengan beberapa pendaftaran, masukkan nomor kartu kredit, dan tukarkan uang anda dengan uang digital. Bitcoin menjadi sangat populer, hingga pada akhir 2017 nilai Bitcoin sama berharganya dengan mata uang lainnya.

Hanya dengan beberapa langkah sederhana, kini anda bisa menggunakan Bitcoin untuk membeli apa saja, bahkan sesuatu yang bersifat ilegal. Saat ini ada banyak sekali cryptocurrency, seperti Ethereum, Litecoin, Ripple, dan bahkan Dogecoin. Semua itu bisa anda beli di bursa, atau menambangnya.

Dogecoin dimulai pada 2013 sebagai lelucon dari meme di internet. Tetapi saat ini Dogecoin mengejutkan semua orang dengan nilai 500 juta dolar di pasaran. Sama halnya dengan Bitcoin, meskipun bukanlah alat pembayaran yang sah, tetapi Bitcoin bisa dikatakan sebagai salah satu inovasi terbesar sejak ditemukannya internet.

Diner’s Club adalah kartu kredit pertama dan diiklankan sebagai tiket ke gaya hidup modern yang baru. Pada 1960-an Diner’s Club membicarakan tentang bagaimana uang tunai tidak cukup modern, dan tidak dapat berinteraksi dengan dunia kita yang bergerak sangat cepat.

Kartu kredit adalah sebuah inovasi. Pada tahun 1970, setengah keluarga di Amerika setidaknya memiliki satu kartu kredit. Membebaskan mereka dari membawa uang tunai ke mana-mana. Lalu sekarang kita berada di zaman Amazon, Google, dan Uber, di mana uang tunai hampir tidak diperlukan sama sekali.

Selama kita mengutak-atik komputer dengan skala besar, akan selalu ada mimpi mengenai uang digital. Di mana uang tersebut berfungsi seperti uang tunai, tetapi tidak terlacak, tanpa nama, cepat, bebas digunakan, dan bisa beroperasi dengan jaringan komputer.

Untuk melakukan transaksi jual beli secara online tanpa pengawasan ternyata jauh lebih sulit daripada kedengarannya, dan masalah ini telah membingungkan banyak ilmuwan komputer selama beberapa dekade terakhir. Masalah itu bahkan memiliki nama sendiri, yaitu The Byzantine Generals Problem.

Nama tersebut diilustrasikan dengan sekelompok jenderal yang masih-masing memimpin pasukan dari tentara Bizantium dan mengepung sebuah kota. Mereka berada dalam situasi di mana harus memutuskan apakah akan menyerang atau mundur. Tetapi apa pun keputusannya, hal yang terpenting adalah mereka harus mencapai konsensus atau sepakat.

Tetapi kesepakatan ini sulit diraih, karena para jenderal ini juga saling curiga dan tidak percaya satu sama lain, sama seperti halnya saat kita tidak dapat saling percaya kepada orang lain secara online.

Seorang jenderal mungkin berkata mereka berencana untuk menyerang, padahal sebenarnya mereka berencana untuk mundur. Ketika ada satu jenderal yang tidak jujur bisa membuat semua orang mati dalam pertempuran. Karena itu para jenderal tidak punya pilihan, selain melaporkan semua rencana pertempuran mereka melalui otoritas pusat.

Alasan seperti itulah yang membuat situs seperti Amazon harus hubungi bank untuk memastikan semua transaksi baik-baik saja, dan anda punya uang untuk melakukan pembayaran. Sama halnya dengan internet yang dibangun di atas paradigma bahwa semua orang bisa dipercaya, dan berpegang terus pada asumsi tersebut dari masa awal internet hingga serakang.

Banyak hal yang kita lakukan secara online adalah bertukar informasi atau hal-hal yang bernilai antara satu sama lain. Sehingga dibutuhkan pihak ketiga untuk menyimpan dan memverifikasi semuanya. Akibatnya internet dipenuhi banyak sekali pihak ketiga seperti Google, Facebook, Instagram, Twitter, PayPal, dan lain-lain.

Poin kuncinya disini adalah transaksi tidak hanya uang, tetapi apapun yang bernilai. Sebenarnya kita bukanlah pelanggan Facebook, melainkan kita adalah produk Facebook. Kita membayar semua perusahaan ini secara efektif dengan data kita, dan itu tidak selalu berjalan dengan baik atau aman.

Namun, tidak banyak alternatif untuk solusi akan Byzantine Generals Problem tersebut. Kemudian Satoshi Nakamoto datang dan memecahkannya. Tapi siapakah Satoshi Nakamoto? Orang ini sebenarnya tidak ada dan tidak pernah ditemukan. Bisa jadi Satoshi Nakamoto adalah seorang wanita atau sekelompok orang yang menggunakan nama tersebut.

Tetapi kita tahu bahwa Satoshi Nakamoto yang asli tidak ingin ditemukan, dan kita mungkin tidak pernah tahu siapa yang menemukannya, tetapi mereka menciptakan cryptocurrency yang dapat kita beli secara online, kemudian membelanjakannya secara bebas dan tidak terlacak, seolah-olah kita seperti menggunakan uang tunai.

Inovasi Satoshi yang memberdayakan Bitcoin dan semua mata uang kripto setelahnya disebut blockchain. Blockchain adalah catatan transaksi seperti buku tabungan yang dikelola oleh bank, tetapi salinan buku besar itu didistribusikan di antara komputer di seluruh dunia yang secara otomatis diperbarui dengan setiap adanya transaksi.

Bayangkan kembali para jenderal Bizantium tadi. Jika perintah mereka tercatat di blockchain, di mana setiap jenderal akan memiliki salinan rencana pertempuran dari jenderal lainnya yang selalu diperbarui dan 100% diverifikasi. Tentunya akan lebih mudah bagi mereka untuk saling percaya dan sepakat dalam mengambil keputusan.

Untuk memelihara buku besar transaksi ini membutuhkan banyak pekerjaan serta usaha keras, dan itu bukan tugas satu orang untuk melakukan pekerjaan tersebut. Tetapi sebagai gantinya, sistem membayar cryptocurrency kepada mereka yang secara sukarela bersedia untuk melakukannya.

Untuk pertama kalinya ada jaringan yang terdistribusi untuk mencapai kesepakatan tentang transaksi yang terjadi dalam jaringan tersebut. Hal ini memungkinkan untuk terbentuknya buku besar yang terpercaya, buku besar yang tidak dipelihara oleh satu pihak saja, tetapi seluruh jaringan dan ini adalah konsep yang sangat kuat!

Satoshi tidak hanya menyelesaikan masalah uang tunai di internet, tetapi juga memiliki solusi untuk masalah kepercayaan di internet. Blockchain memfasilitasi perspektif yang sepenuhnya berbeda, yaitu tidak ada pengguna yang bisa dipercaya. Itu memfasilitasi interaksi tipe baru yang kita anggap mustahil sebelumnya.

Bitcoin adalah uji coba blockchain yang pertama. Sistem uang yang tidak dikendalikan oleh siapa pun, tanpa hukum dan peraturan. Itu adalah sebuah eksperimen liar dengan waktu yang sangat tepat.

Hanya dalam waktu singkat Bitcoin telah berhasil mencapai prime time. Bisnis pun mulai membuat cryptocurrency mereka sendiri dan menjualnya untuk mendapatkan keuntungan, sama seperti saham di pasar saham.

Orang-orang juga mulai memperlakukan cryptocurrency seperti pasar saham, dengan berinvestasi pada jenis pasar yang berbeda, mencoba membeli saat murah dan menjualnya saat mahal. Selama beberapa tahun terakhir ini bisa dikatakan sangat mudah untuk menjual Bitcoin dengan harga tinggi, dan menghasilkan keuntungan yang konyol dalam cryptocurrency.

Ini seperti efek bola salju saat menuruni bukit, dan menjadi semakin besar dengan seiring waktu. Pada tahun 2010, ketika satu Bitcoin bernilai 6 sen, 50 Bitcoin sudah cukup untuk secangkir kopi yang mahal. Pada puncaknya di tahun 2017, jumlah Bitcoin yang sama bisa bernilai $850.000.

Tetapi pada Januari 2018 cryptocurrency hancur. Hal itu disebabkan karena banyaknya laporan transaksi yang mencurigakan dan penipuan. Selain itu juga disebabkan karena ketidakyakinan orang-orang akan nilai cryptocurrency yang sesungguhnya. Apa pun alasannya, setengah nilai dari semua cryptocurrency menguap bagai asap.

Selain itu juga banyak perusahaan cryptocurrency yang telah kehilangan sejumlah besar uang mereka karena peretasan dan salah manajemen. Seperti peretasan di Bitstamp, bursa Bitcoin terbesar di dunia. Mt. Gox kehilangan 750.000 Bitcoin milik pengguna. Coincheck yang berbasis di Tokyo juga pernah diretas dan mengalami kerugian hampir $500 juta dalam bentuk token digital.

Komputer yang bekerja setiap saat untuk memelihara buku besar menggunakan energi lebih banyak daripada negara mana pun. Bisa dikatakan biaya untuk memelihara blockchain sangatlah mahal. Jika dibandingkan, jaringan pembayaran visa bisa memproses 24.000 transaksi per detik, sedangkan Bitcoin hanya 7 transaksi per detik.

Tetapi orang-orang sangat yakin beberapa masalah ini akan terselesaikan dan blockchain akan berevolusi menjadi lebih dari sekedar uang. Hanya saja belum jelas apa itu. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, sama seperti kita tidak dapat memprediksi Uber di tahun 90-an.

Kita tidak bisa memprediksi aplikasi terdesentralisasi berikutnya yang akan muncul dari infrastruktur baru ini. Cryptocurrency hanyalah eksperimen pertama, dan itu mungkin tidak menjadi revolusi yang diharapkan oleh banyak orang.

Kita mungkin memiliki kode untuk memecahkan masalah kepercayaan di internet, tetapi kita belum tahu apakah kepercayaan adalah masalah yang benar-benar dapat dipecahkan oleh teknologi selama manusia yang menggunakannya.

Semoga bermanfaat.