Setiap orang menginginkan kepribadian yang lebih baik. Kita semua membayangkan diri kita berada di “Fantasy Island” dari film seri, dimana dentang lonceng misi mengubah diri kita menjadi orang ningrat yang fasih bicara dan berpakaian indah-indah. Kita tidak lagi tersandung, tersaruk-saruk, atau meraba-raba; kita bicara, memikat, menawan dan memahami. Setelah pertunjukkan berakhir, kita mematikan setelan pikiran kita dan memulai kembali pola ujian hidup kita. Sementara kita memandangi layar yang kosong, kita bertanya-tanya dalam hati mengapa “komedi situasi” kita diberhentikan; mengapa kita digantikan oleh bintang-bintang baru yang memainkan peranan mereka dengan penuh keyakinan; mengapa rupanya kita dibuang sebagai orang yang tidak cocok. Kita buru-buru ke kursus kepribadian yang menjanjikan untuk mengubah kita menjadi orang yang otaknya cemerlang dalam waktu dua pulu empat jam; pengalaman evaluasi diri yang akan menjadikan diri kita dewa-dewa kecil dengan tenaga maksimal; atau pelajaran sensitivitas, tempat kita akan meraba-raba jalan ke masa depan yang fantastis. Kita berjalan terus mengharapkan mukjizat dan pulang dengan rasa kecewa. Kita tidak cocok dengan acuan orang yang menarik, penuh dengan potensi, yang digambarkan sebagai norma. Kita mempunyai dorongan, kemampuan dan kepribadian yang berbeda – dan kita tidak bisa diperlakukan sebagai orang yang sama.

TIDAK ADA DUA ORANG YANG SAMA Kalau kita semua seperti telur yang identik dalam sebuah karton, seekor ayam betina raksasa bisa menghangatkan kita dan mengubah kita menjadi anak ayam yang manis atau ayam jago yang gagah dalam sekejap mata, tetapi kita semua berbeda. Kita semua dilahirkan dengan rangkaian kekuatan dan kelemahan kita sendiri, dan tidak ada rumus ajaib yang bisa bekerja seperti mukjizat bagi kita semua. Sebelum kita mengenal keunikan kita, kita tidak bisa memahami bagaimana orang bisa duduk dalam seminar yang sama dengan pembicara yang sama dalam jumlah waktu yang sama pula dan semuanya mencapai tingkat sukses yang berbeda-beda. Kepribadian Plus melihat kepada kita masing-masing sebagai individu yang merupakan campuran dari empat watak dasar dan mendorong kita untuk mengenal saya yang sesungguhnya dari dalam sebelum berusaha mengubah apa yang tampak pada permukaan.

APA YANG ADA DI DALAM YANG PENTING Ketika Michael Angelo siap untuk memahat patung David, dia melewatkan waktu lama sekali untuk memilih marmer, sebab dia tahu bahwa mutu bahan mentah akan menentukan keindahan produk yang sudah jadi. Dia tahu bahwa dia akan mengubah bentuk batu, tetapi dia tidak bisa mengubah mutu dari bahan dasarnya. Setiap karya besar yang dibuatnya unik, sebab bahkan seandainya dia menginginkannya, dia tidak akan menemukan sebungkal marmer yang merupakan duplikatnya. Bahkan seandainya dia memotong satu blok dari galian yang sama, itu tidak akan tepat sama. Serupa, ya, tetapi tidak sama.

SETIAP ORANG DARI DIRI KITA UNIK Kita memulai dengan perpaduan ramuan yang membuat diri kita berbeda dengan saudara laki-laki dan saudara perempuan kita. Selama bertahun-tahun orang memahat, memalu, mangampelas dan menggosok kita. Tepat ketika kita berpikir bahwa kita sudah merupakan produk jadi, seseorang mulai mulai membentuk kita lagi. Kadang-kadang kita menikmati satu hari di taman, ketika semua orang yang lewat mengagumi dan mengelus kita, tetapi pada waktu lainnya kita diejek, dianalisa atau diabaikan. Kita semua dilahirkan dengan ciri khas watak kita sendiri, bahan mentah kita sendiri, jenis batu kita sendiri. Beberapa di antara kita granit, beberapa lainnya marmer, beberapa lainnya lagi pualam dan masih lainnya lagi batu pasir. Jenis batu kita tidak berubah, tetapi bentuk kita bisa diubah. Demikian pula dengan kepribadian kita. Kita mulai dengan rangkaian ciri khas bawaan kita masingmasing. Beberapa kualitas kita indah bertatahkan emas. Beberapa lainnya bercacat dengan garis-garis kelabu. Keadaan kita, IQ kita, kebangsaan kita dan pengaruh orang tua kita bisa mencetak kepribadian kita, tetapi batu di bawahnya masih tetap sama. Watak saya adalah diri saya yang sesungguhnya; kepribadian saya adalah pakaian yang saya kenakan. Saya bisa melihat ke cermin di pagi hari dan melihat wajah yang biasa-biasa saja, rambut lurus dan tubuh gemuk. Itulah diri saya yang sesungguhnya. Syukurlah, dalam waktu satu jam saya bisa membubuhkan make up untuk menciptakan wajah yang warna-warni; saya bisa mencolokkan besi pengeriting untuk membentuk rambut saya; dan saya bisa memakai gaun indah untuk menyamarkan terlalu banyak bagian tubuh yang menggembung. Saya telah mengambil diri saya yang sesungguhnya dan memberinya pakaian, tetapi saya belum secara permanent mengubah apa yang ada di bawahnya.

Kalau saja kita bisa memahami diri sendiri: Tahu dari apa kita dibuat. Tahu siapa diri kita sesungguhnya. Tahu mengapa kita bereaksi seperti yang kita lakukan. Tahu kekuatan kita dan bagaimana cara meningkatkannya. Tahu kelemahan kita dan bagaimana cara mengatasinya.